Am trying to be more enthusiastic!
I know I love architecture!
Enthusiastic!
•September 14, 2009 • Leave a CommentBrand New Spatial Theory : Digitalism?
•September 8, 2009 • Leave a CommentDunia sekarang telah terdigitalisasi akibat perkembangan teknologi yang pesat. Tidak terkecuali dalam bidang arsitektur sehingga sekarang ini banyak orang menyebut istilah Arsitektur Digital. Menyebut kata digital, langsung terbesit kata futuristik, walau sebenarnya tidak melulu tentang hal tersebut.
Menurut saya, konsep digital dapat memunculkan suatu bentuk baru dalam arsitektur yang sebenarnya merupakan revolusi atas keberanian transformasi desain, misalnya arsitek tidak perlu lagi merasa ’takut’ untuk mengekspresikan ide dan konsep dalam bentuk yang lebih futuristik dan terlihat rumit karena arsitektur digital adalah sebuah alat baru, di mana saat itu teori spasial tidak terpengaruhi oleh teknologi tersebut.
Lantas bagaimana jika menjadi sebuah teori di mana proses berpikir tentang desain dan metoda desain maupun teori keruangan menjadi terdigitalisasi?
Arsitek dunia seperti Frank Gehry, Zaha Hadid dan banyak arsitek kaliber dunia menggunakan teknologi digital sebagai pembaruan dari representasi pikiran mereka, di mana teori keruangan desain terdigitalisasi, ini membuktikan bahwa arsitektur digital lebih dari sekadar alat, lebih dari sekadar a New Tool, namun sudah memasuki fase a New Theory karena dapat membantu proses berpikir desain karena metoda desain berdasar pada metoda yang selama ini dipelajari dalam disiplin ilmu kemudian dituangkan pada bentuk digital.
Arsitektur digital, selama masih dengan desain yang dapat dipertanggungjawabkan, menjadi sebuah studi yang banyak diinginkan orang saat ini. Tidak dapat disangkal CAAD (Computer-Aided Architectural Design) juga mengimprovisasi fasilitas alat di software mereka menjadi suatu alat yang dapat menghasilkan bentuk yang bebas dan spektakular, dan juga meminimalisasi kesalahan desain.
Menurut saya, terdapat adanya gap atau kesenjangan yang dibawa oleh digitalisasi ini, yakni antara teknologi digital dan ilmu pengetahuan manusia. Dalam pendidikan formal arsitektur yang saya jalani sekarang, mahasiswa dituntut untuk memiliki konsep filosofis, historis, hingga konteks sosial budaya pada lingkungan sekitar sehingga desain menjadi terintegrasi pada lingkungan. Adanya teknologi arsitektur dijital dikhawatirkan mahasiswa atau bahkan seorang arsitek berpikir lebih praktis dan menjadi overusing komputer untuk mendesain dan menerapkan teori dalam desain. Adanya software – software yang canggih ditambah dengan pemikiran out of the box muncullah desain yang spektakular, namun apakah kontekstual dengan lingkungan sekitar? Menurut saya inilah perdebatannya di mana arsitektur dijital akrab dengan desain di mana bentuk, ruang, dan struktur didefinisikan kembali dengan teori desain yang ”baru” , misalnya parametric design atau bentuk geometri yang topologi di mana di generasi sebelumnya belum terpikirkan .
Menurut saya, teori dari arsitektur digital dan konvensional adalah cara urutan berpikir desain yang berbeda, semisal pada kegiatan studio pada pendidikan arsitektur formal yang konvensional dengan arsitektur dijital di mana hal ini menuai kritik , lebih banyak dari generasi arsitek sebelumnya.
Saya berpikiran, sebagai generasi yang hadir pada era digital, mempelajari arsitektur digital menjadi penting dengan tidak menanggalkan cara berpikir desain dari pendidikan formal arsitektur karena dapat menciptakan desain inovatif sekaligus dapat direalisasikan jika hal tersebut dikombinasikan. Maka, saya menempatkan digital sebagai a new tool terhadap yang kita pelajari pada pendidikan arsitektur formal.
